Jual Pembatas ShalatJual Sutrah Shalat

Tempat Jual Sutrah Shalat Termurah di Indonesia

Tempat jual sutrah shalat di berbagai daerah di Indonesia makin banyak dicari oleh masyarakat. Adapun yang dimaksud dari sutrah sendiri adalah sebuah benda untuk batasan saat menjalankan shalat yang diletakkan di depan tempat sujud. Fungsinya secara umum adalah sebagai penghalang agar tak dilewati atau dilangkahi oleh orang lain atau bahkan seekor binatang. Hal ini dilakukan untuk menghormati orang yang sedang menjalankan ibadah shalat.

Pengertian Sutrah Secara Bahasa dan Istilah

Sutrah secara bahasa berasal dari kata satara-yasturu yang memiliki arti menyembunyikan, menutupi. Adapun secara istilah yakni sesuatu yang dijadikan oleh seorang yang shalat di depannya sebagai pembatas antaranya dengan orang yang ingin lewat di hadapannya. Pengertian ini memang masih umum, karena para ulama mempunyai pendapat berbeda terkait apakah garis atau batas sajadah sudah dapat digolongkan sutrah atau belum. Jika Anda berminat untuk membeli pembatas shalat, Anda dapat membeli di jual sutrah shalat.

Hukum Sutrah

Semua ulama sepakat jika sutrah bagi orang shalat itu memang disyariatkan. Namun jika kita berbicara tentang hukumnya, terdapat sedikit perbedaan, yaitu antara yang mewajibkan dan mengatakan sunnah. Bisa dikatakan ulama dari zaman salaf hampir tak ada yang mengatakan jika hukum sutrah bagi orang shalat termasuk wajib. Jumhur ulama madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah serta Hanabilah berpendapat jika sutrah bagi orang shalat hukumnya termasuk sunnah.  Walaupun sunnah, sangat dianjurkan untuk Anda membeli sutrah di jual sutrah shalat daerah Anda.

Meski jumhur ulama mengatakan sunnah, akan tetapi  banyak pendapat yang berbeda mengenai kesunnahannya. Menurut pendapat Hanabilah, sutrah sunnah hanya berlaku bagi imam dan munfarid saja. Sedangkan menurut Malikiyyah dan Hanafiyyah, hukumnya sunnah bagi yang dihawatirkan akan ada orang lewat di hadapannya. Menurut Syafiiyyah dan salah satu pendapat Hanabilah, hukumnya sunnah muthlak tanpa ada batasan.

Jika terdapat petunjuk lain yang mengarahkan pada hukum sunnah, maka perintah tersebut mempunyai arti sunnah dan bukan wajib. Karena itu, perbedaan tak terletak pada ada atau tidaknya dalil, akan tetapi lebih mengarah pada pemahaman hadits apakah sampai taraf sunnah atau mungkin wajib.

Banyak ulama yang sepakat jika sutrah bagi orang shalat itu memang diwajibkan. Namun, apabila membicarakan mengenai hukumnya, ada sedikit perbedaan, yakni ada yang mengatakan itu wajib dan ada pula yang mengatakan sunnah. Dapat dikatakan ulama pada zaman salaf hampir tak ada yang mengatakan jika hukum sutrah bagi orang shalat merupakan wajib. Anda tak perlu khawatir jika ingin membeli sutrah. Nah untuk Anda yang membeli sutrah, banyak orang yang jual sutrah Shalat dengan harga yang terjangkau namun kualitas terjamin.

Pendapat yang Menyunnahkan Penggunaan Sutrah

Bisa dikatakan hampir ulama salaf dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafii hingga Hanbali mempunyai pendapat jika sutrah itu sunnah hukumnya. Bahkan Ibnu Rusyd al-Hafid al-Malikiy (w. 595 H) berani memberikan pengertian jika hukum sunnah termasuk kesepakatan semua ulama.

Pendapat yang Mewajibkan Penggunaan Sutrah

Jika diteliti lebih lanjut, hanya ada dua orang saja yang mengatakan dengan tegas, hukum sutrah dalam shalat hukumnya wajib, yakni as-Syaukani (w. 1250 H) dan al-Albani (w. 1420 H) serta beberapa murid beliau.

Hadist dari Rasulullah SAW

Sutrah ini bisa berupa tembok, dinding, tiang, meja, kursi, kardus, sepeda dan masih banyak lagi. Tak ada batasan hingga berbagai syarat tertentu dalam sutrah ini, akan tetapi di sana terdapat hadist yang diriwayatkan dari Tolhah ra, bahwasanya Rosululah saw telah bersabda :

“Jika seseorang diantara kalian sudah meletakkan di depannya seperti kayu yang terletak di ujung belakang pelana, maka hendaknya ia sholat dengan tak usah menggubris setiap yang lewat di belakang (sutrah) tadi.“ (HR Muslim). Untuk berjaga-jaga Anda bisa membeli pembatas shalat di jual sutrah Shalat.

Hadist di atas telah menunjukkan jika sutrah yang digunakan di zaman Rosulullah saw merupakan setinggi kayu di ujung belakang pelana. Para ulama sudah menyebutkan dengan ukuran setinggi satu hasta.

Pertanyaannya, jika Anda tak mempunyai sutrah setinggi ujung pelana, apakah Anda dapat menggunakan sutrah yang jauh lebih rendah dari itu, seperti buku, kayu sajadah yang ditidurkan, atau bahkan sekadar garis? Para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda, namun jika memang benar-benar tak ada yang lain sebagian dari ulama membolehkannya untuk dijadikan sutrah yang mempunyai fungsi sebagai pembatas antara orang yang shalat dengan orang yang lewat di depannya.

Ibnu Naji sudah menceritakan jika ada tiga pandangan ulama mengenai sutrah ini, ada yang mengatakan mustahabbah atau disukai seperti pendapat, Iyadh dan yang semisalnya, atau mandubah (sudah dianjurkan) seperti pendapat Al Baji. Keduanya termasuk sunah sebagaimana dalam Al Kafi. Ketiga termasuk wajib, dikatakan oleh Izzuddin bin Abdis Salam. (Mawahibul Jalil, 4/126. Mawqi Al Islam) Istilah mustahab, mandub, tathawwu, dan nafilah memiliki arti sama oleh para ulama, yaitu sunah.  Nah itulah pendapat dari para ulama, jika Anda berminat membeli pembatas shalat Anda bisa membeli di jasa jual sutrah Shalat.

Berikut ini benda-benda apa saja yang bisa dijadikan sutrah:

  • tongkat yang ditancapkan,
  • tiang masjid,
  • pohon,
  • hewan tunggangan,
  • dinding atau tembok,
  • tempat tidur,
  • benda yang tinggi.

Boleh menjadikan sesuatu yang tinggi misalnya seperti mu`khiratur rahl sebagai sutrah. Mu`khiratur rahl merupakan kayu yang berada di bagian belakang pelana hewan tunggangan yang dijadikan sebagai sandaran bagi si penunggang hewan tersebut. Tingginya sekitar 2/3 hasta. (Nailul Authar 3/4, Taudhihul Ahkam, 2/64, Asy-Syarhul Mumti` 1/731)

Dalil Lainnya Tentang Sutrah Shalat

Dari Al Fadhl bin ‘Abbas, yang mengatakan

“Kami mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kami berada di gurun. Tatkala itu beliau bersama ‘Abbas. Beliau shalat di gurun di mana tak ada di depan beliau sutroh” (HR. Abu Daud no. 718). Hadits ini diperselisihkan mengenai keshahihannya. Al Khottobi dalam Ma’alimus Sunan (1/165) mengatakan jika sanad hadits ini mengalami kritikan. Lalu ‘Abdul Haq Al Isbiliy dalam Al Ahkam Asy Syar’iyyah Al Kubro (2/162) mengatakan jika hadits tersebut tak dapat dijadikan hujjah. Al Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (2/137) mengatakan jika di dalam sanadnya ada sebuah Majalid bin Sa’id yang mendapat kritikan. Jika Anda berminat membeli sutrah shalat, Anda bisa menemumakan pada jual sutrah Shalat di berbagai tempat.

Pendapat Para Ulama Mengenai Sutra Shalat

  • As-Safarini berpendapat jika pengguna sutrah dalam shalat termasuk sunnah, sebagaimana disepakati oleh para ulama.
  • Abu Ubaidah mempunyai pendapat jika makmum tak wajib menggunakan sutrah, karena sutrah dalam shalat jama’ah sudah ditanggung oleh imam.

Rasulullah bersabda yang artinya “Janganlah kalian shalat, kecuali menghadap sutrah. Lalu janganlah kalian membiarkan seorang pun untuk melewatimu, jika dia menolak maka hendaklah kamu bunuh dia, karena sesungguhnya terdapat syetan yang tengah bersamanya. Itulah sabda dari Rasulullah. Jika Anda belum memiliki sutrah shalat, Anda bisa membeli di jual sutrah Shalat dengan harga terjangkau.